Satu Bulan Makan Bergizi, Usaha dalam Setiap Ompreng

Sejak bergulir 6 Januari 2025, program Makan Bergizi Gratis di Jakarta menjangkau 126 sekolah dan 42.270 siswa. Ada usaha dalam setiap ompreng menu yang tersaji.

05 Feb 2025 06:00 WIB · Metro

Oleh Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany

Makan Bergizi Gratis bukan hanya soal ompreng berisi makanan sampai ke sekolah. Butuh usaha agar siswa lahap sehingga program pemerintah ini tak sia-sia.

Waktu menunjukkan pukul 07.46 WIB pada Selasa (4/2/2025). Satu mobil boks masuk ke halaman SD Negeri Slipi 15, Jakarta Barat.

Mobil ini membawa ratusan ompreng berisi paket Makan Bergizi Gratis, salah satu program andalan Presiden Prabowo Subianto.

Ompreng lantas dipindahkan ke atas meja dekat ruang guru. Kemudian, ompreng dihitung jumlahnya sebelum dibagikan ke kelas-kelas.

Guru wali kelas 3, Andriyani, meminta siswa duduk di kursi masing-masing. Ia lalu membagikan satu per satu ompreng.

Setelah itu, siswa diminta mengeluarkan sendok dan garpu yang dibawa dari rumah. Namun, tak semua siswa membawanya sehingga mereka diharuskan untuk mencuci tangan sebelum makan.

Seorang siswa terlebih dulu memimpin doa sebelum makan. Menu pagi itu, nasi, sebutir telur rebus, tahu bumbu, sayur bening sawi dan jagung, serta salak.

Distribusi Makan Bergizi Gratis ke SD Negeri Slipi 15, Jakarta Barat, Selasa (4/2/2025).
Pencatatan paket Makan Bergizi Gratis di SD Negeri Slipi 15, Jakarta Barat, Selasa (4/2/2025).
Paket menu Makan Bergizi Gratis di SD Negeri Slipi 15, Jakarta Barat, Selasa (4/2/2025).
Suasana ketika siswa Makan Bergizi Gratis di SD Negeri Slipi 15, Jakarta Barat, Selasa (4/2/2025).
Makan Bergizi Gratis di SD Negeri Slipi 15, Jakarta Barat, Selasa (4/2/2025).
Makan Bergizi Gratis di SD Negeri Slipi 15, Jakarta Barat, Selasa (4/2/2025).

Aisyah (8) lebih dulu memakan salak karena buah kesukaannya. Ia lalu melahap tahu dan nasi. ”Tidak suka sawi. Di rumah biasanya makan bayam,” ujar Aisyah.

Lain lagi dengan Abdul (8). Ia memasukkan telur dan salak ke dalam tas. Ia lantas menghabiskan tahu, nasi, dan sayur. ”Salak makan di rumah saja. Telur untuk nenek,” jawab Abdul ketika ditanya.

Andriyani tak menyoal hal itu. Intinya siswa perlahan-lahan menyukai makanan yang disediakan.

Ia juga menghampiri satu per satu siswa. Mereka berbincang tentang menu pagi itu. Obrolan disisipi manfaat makanan bagi tubuh untuk memantik selera siswa.

Siswa saat Makan Bergizi Gratis di SD Negeri Slipi 15, Jakarta Barat, Selasa (4/2/2025).

Memantik siswa

Usaha memantik siswa ini banyak dilakukan kepada siswa kelas kecil ketimbang kelas besar. Kelas kecil meliputi kelas 1, 2, dan 3, sedangkan kelas besar ada di atasnya hingga SMP dan SMA atau sederajat.

Pagi itu, misalnya, Andriyani menenangkan siswa yang merengek karena diusili. Mulai dari menyembunyikan salak dan menggigit tahu orang lain hingga memindahkan sayuran ke ompreng teman sebangku.

”Kelas 4, 5, dan 6 sudah lebih mandiri. Kalau kelas kecil harus lebih aktif. Ada yang mau tambah makanan, ada juga yang jahil,” ujar Andriyani sambil mengingatkan siswa untuk makan perlahan agar tak tersedak dan minum air.

Bagi yang ingin menambah makanan, Andriyani akan mengambil dari ompreng siswa yang tidak hadir. Bisa juga dengan membagikan makanan siswa lain yang belum disentuh atau dimakan.

Selain itu, siswa disemangati untuk melahap menu program Makan Bergizi Gratis agar bisa menabung uang jajan. Uang itu kelak bisa digunakan untuk membeli alat tulis, mainan, atau makanan kesukaan.

Cara ini, menurut Andriyani, cukup ampuh. Namun, jika memungkinkan, menu jangan diganti setiap hari agar siswa terbiasa.

”Kalau mereka suka, pasti habis. Biasanya nasi uduk, ayam, telur. Kalau sayur memang (jadi) tantangan karena banyak yang kurang suka,” kata Andriyani.

Saran tersebut bakal disampaikan pihak sekolah kepada satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) terkait saat evaluasi akhir pekan ini.

Makan Bergizi Gratis di SD Negeri Slipi 15, Jakarta Barat, Selasa (4/2/2025).

Program

Sementara siswa kelas besar lebih terbiasa dengan menu Makan Bergizi Gratis. Siswa lebih lahap, tetapi bukan berarti mengesampingkan keinginan mereka agar program tepat sasaran.

Siswa kelas 7 SMP 1 Barunawati, Jakarta Barat, contohnya. Fitria, guru Bahasa Inggris di sekolah ini, meminta siswa mengambil ompreng yang telah diantar ke sekolah sejak pukul 11.48 WIB.

Mereka akan menyantap nasi, sebutir telur rebus, tahu berbumbu, sayur bening sawi dan jagung, serta salak sebelum dimulainya jam pelajaran.

Tubagus Arnezee (12) langsung mengeluarkan sendok dan garpu. Ia lalu memakan lauk pauk yang ada secara perlahan. ”Suka semuanya,” kata Tubagus.

”Saya suka tahunya,” timpal Tera (12), teman sebangku Tubagus.

Sama seperti kedua siswa ini, teman-teman sekelasnya melahap menu Makan Bergizi Gratis tanpa banyak tingkah. Ketika ditanya, kebanyakan siswa mengatakan suka dengan menunya. Akan tetapi, tetap ada yang menyisakan makanan.

Distribusi paket Makan Bergizi Gratis ke SMP 1 Barunawati, Jakarta Barat, Selasa (4/2/2025).
Suasana pembagian paket Makan Bergizi Gratis di SMP 1 Barunawati, Jakarta Barat, Selasa (4/2/2025).
Makan Bergizi Gratis di SMP 1 Barunawati, Jakarta Barat, Selasa (4/2/2025).

Sejak bergulir 6 Januari 2025 lalu, program Makan Bergizi Gratis di Jakarta telah menjangkau 126 sekolah. Makanan didistribusikan dari 14 SPPG kepada 42.270 siswa.

Penjabat Gubernur Jakarta Teguh Setyabudi menargetkan 17 SPPG beroperasi sejak Januari dari rencana 153 SPPG sepanjang tahun 2025. Lokasinya diharapkan tidak jauh dari sekolah atau maksimal 5 kilometer dari sekolah.

Selain itu, pengawasan, sosialisasi, dan edukasi terus berjalan agar program Makan Bergizi Gratis berjalan lancar.

”Pengawasan penting agar kualitasnya tetap terjaga. Kami juga mendukung aspek sosial, edukasi, penunjukan lokasi sekolah, dan nanti bisa mendukung dari sisi lainnya,” kata Teguh.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam pengawasannya di beberapa sekolah telah menemukan sejumlah kendala. Kendala itu di antaranya keterlambatan distribusi makanan dan siswa alergi terhadap jenis makanan tertentu.

Wakil Ketua KPAI Jasa Patra menekankan pentingnya pengawasan agar tidak ada kendala distribusi ataupun masalah kualitas makanan. Guru juga diharapkan lebih peka dengan kebutuhan siswa agar menu sesuai dan bergizi.

Makan Bergizi Gratis sendiri diketahui punya target khusus. Target itu mulai dari peningkatan akses ke makanan bergizi, pengetahuan gizi, dan pola makanan sehat. Kemudian, peningkatan prestasi dan partisipasi kehadiran siswa serta pengurangan angka anak putus sekolah.

Target lainnya di bidang ekonomi adalah pemanfaatan bahan pangan lokal serta peningkatan kesejahteraan petani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Lalu mengurangi kemiskinan sekaligus diharapkan menciptakan lapangan kerja dan mengurangi beban penduduk miskin dalam memenuhi kebutuhan pangan..


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany
 | 

Editor:

C. Wahyu Haryo P