Cabang unggulan turut terdampak efisiensi anggaran sehingga persiapan Asian Games 2026 tak ideal. Di sisi lain, kontingen Indonesia maksimal meski target minimalis.
29 Agt 2026 05:10 WIB · Olahraga
KOMPAS/REBIYYAH SALASAH
Tak berangkat ke seri Piala Dunia, kejuaraan dalam negeri pun jadi. Itulah yang dilakukan pemanah-pemanah tim Indonesia ketika ”menyerbu” kejuaraan panahan Satria Legawa Pro Championship 2026 di Jakarta International Equestrian, Jakarta, 21-25 Agustus.
Bukan ajang ideal untuk uji coba bagi atlet-atlet yang sebelumnya berpengalaman berlaga di seri Piala Dunia dan Kejuaraan Dunia. Namun, Rezza Octavia dan kawan-kawan tak punya pilihan lain. Mereka harus menguji kemampuan dan merasakan atmosfer kompetisi sebelum Asian Games.
”Jadi, di kejuaraan itu kami memvisualisasikannya Asian Games, membayangkan lawannya bukan orang Indonesia, tapi atlet-atlet Korea, China, India,” kata Rezza, pemanah recurve, di sela-sela latihan di Lapangan Panahan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis (20/9/2026) siang.
Uji coba di dalam negeri adalah salah satu siasat tim panahan Indonesia di tengah efisiensi anggaran. Status panahan sebagai cabang olahraga unggulan dalam Desain Besar Olahraga Nasional sekaligus cabang yang konsisten lolos ke Olimpiade dan menyumbang medali di Asian Games ternyata tak membuat mereka ”kebal” dari pemangkasan tersebut.
Menurut Rezza, persiapan untuk Asian Games edisi sebelumnya di Hangzhou 2022 lebih optimal. Begitu juga dengan persiapan untuk SEA Games Thailand 2025, yang levelnya Asia Tenggara.
Untuk ke SEA Games, mereka bahkan uji coba di Piala Dunia seri Florida, Amerika Serikat, lalu Piala Asia di Singapura, dan menutupnya dengan berlomba Kejuaraan Asia di Dhaka, Bangladesh, dan Piala Dunia di Madrid, Spanyol.
Hasilnya tidak mengkhianati proses. Mereka menjadi juara umum dengan enam emas, melampaui target yang diberikan Kementerian Pemuda dan Olahraga, yaitu lima medali emas.
Selain minim uji coba internasional, program pemusatan latihan nasional (pelatnas) pun tidak berlangsung intensif. Mereka sempat menjalani pelatnas sebulan sejak Februari, lalu dipulangkan ke daerah masing-masing untuk desentralisasi karena efisiensi anggaran. Baru pada Juni mereka kembali menjalani pelatnas.
Pada rapat kerja dengan Komisi X DPR pada 2 Juni 2026, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menyebut, anggaran pelatnas untuk Asian Games Aichi-Nagoya 2026 menurun 79 persen dibandingkan dengan Asian Games Hangzhou 2022.
Untuk persiapan Hangzhou, anggaran pelatnas sebesar Rp 389 miliar untuk 31 cabang olahraga dan 415 atlet. Sementara untuk Aichi-Nagoya, anggaran pelatnas Rp 81 miliar untuk 33 cabang olahraga dan 361 atlet.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/03/3f459586fa58c0509f18609fd5c5fbbe-Screenshot_2026_06_03_at_10.38.28.png)
Hal itu tak lepas dari pemangkasan dari Kementerian Keuangan dan pagu Kemenpora yang rendah. Dari total anggaran Kemenpora sebesar Rp 1,15 triliun, terdapat pemangkasan hingga Rp 270 miliar.
Anggaran untuk pelatnas bahkan lebih kecil dari bonus dari pemerintah untuk atlet dan pelatih yang berprestasi di SEA Games Thailand 2025. Bonus itu mencapai Rp 465,25 miliar.
Baru pada 12 Agustus lalu, Erick mengumumkan pemerintah menambah anggaran untuk pelatnas Asian Games. Pemerintah menyisir anggaran sehingga bisa menambahnya menjadi Rp 127 miliar. Setelah itu, ada tambahan lagi Rp 95 miliar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/08/28/db48057bdac3e49e930604f336f62267-cropped_image.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/08/28/adf78b637d1b8a433a704fad885762cd-cropped_image.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/08/21/765612ea-a16e-49aa-80f6-f351c01e05a9.jpg)
Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir (KOMPAS/REBIYYAH SALASAH)
Pemanjat tebing Indonesia peraih medali emas di Asian Games Hangzhou 2022, Desak Made Rita Kusuma Dewi. (KOMPAS/REBIYYAH SALASAH)
Pemanah Indonesia peraih medali perunggu Asian Games Hangzhou 2022, Riau Ega Agatha. (KOMPAS/REBIYYAH SALASAH)
Sebenarnya tak cuma panahan yang sempat terdampak efisiensi anggaran. Cabang penyumbang medali emas di Asian Games Hangzhou 2022 dan Olimpiade Paris 2024, panjat tebing, juga sempat kesulitan dana.
Panjat tebing tetap memberangkatkan atlet untuk mengikuti serangkaian uji coba di seri Piala Dunia. Namun, mereka juga harus bersiasat dengan tidak menyertakan ofisial dan tim medis, memilih ketat atlet, dan memulangkan atlet yang sebelumnya disiapkan pelatnas jangka panjang.
Peraih emas di Asian Hangzhou 2022, Desak Made Rita Kusuma Dewi, mengatakan, mereka hanya berharap dukungan penuh dari seluruh pihak. Sebagai atlet, sudah tugas mereka berjuang membawa nama Merah Putih, bahkan di tengah keterbatasan.
Hal serupa disampaikan Rezza. Segala keterbatasan dalam persiapan coba disiasati dengan tekad yang maksimal untuk bisa menampilkan performa terbaik dan meraih prestasi.
Saya sudah sampaikan bahwa target realistis dengan situasi seperti hari ini adalah empat medali emas, tidak tujuh.
Desak dan Rezza adalah bagian dari 432 atlet Indonesia yang akan dikirim ke Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Dalam situasi efisiensi anggaran, Indonesia tetap mengirimkan kontingen dengan jumlah besar.
Jumlah atlet ke Aichi-Nagoya 2026 itu melampaui kontingen Indonesia di Hangzhou 2022. Saat itu, Indonesia mengirimkan total 415 atlet untuk 31 cabang.
Kendati kuantitas atlet meningkat, target Indonesia untuk Aichi-Nagoya 2026 lebih rendah dibandingkan perolehan tujuh emas pada Hangzhou 2022. Target untuk para atlet di Asian Games 2026 adalah empat emas.
”Saya sudah sampaikan bahwa target realistis dengan situasi seperti hari ini adalah empat medali emas, tidak tujuh,” kata Erick di kantornya, Jumat (31/7/2026).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/09/26/20398d30-de61-4f6b-a1fc-c9e4c842b8db_jpg.jpg)
Menurut Erick, penetapan empat target emas disebabkan tiga nomor penghasil emas di Hangzhou tidak dilombakan lagi di Aichi-Nagoya. Ketiga nomor potensial ini adalah nomor running target 10 meter dan running target mixed 10 meter di cabang menembak dan perahu naga di cabang dayung.
Di Hangzhou 2022, Indonesia meraih tujuh emas dari angkat besi, panjat tebing, menembak (nomor perseorangan running target 10 meter dan nomor perseorangan running target mixed 10 meter). Selain itu, emas juga diraih perahu naga, wushu, dan panjat tebing.
Kata Erick, pihaknya menambah porsi atlet sejumlah cabang unggulan agar memperluas potensi emas tambahan. Di sisi lain, persiapan juga tidak bisa ideal karena problem efisiensi anggaran.
Untuk pesta olahraga sekelas Asian Games yang sering disebut sebagai salah satu sasaran utama prestasi olahraga Indonesia, idealnya para atlet menjalani latihan maksimal. Namun, situasi sebaliknya dialami atlet-atlet Indonesia. Alhasil, hanya pada tekad besarlah mereka bisa berharap.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul