Demonstrasi di Pati, Jateng, menunjukkan solidaritas warga dalam melawan ketidakadilan yang mereka alami. Beragam sumbangan mengalir untuk mendukung aksi tersebut.
13 Agt 2025 20:26 WIB · Politik & Hukum
Berbagai jenis sumbangan dari masyarakat—antara lain hasil bumi, air mineral, bahan pokok, dan roti—berdatangan untuk mendukung demonstrasi warga di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Rabu (13/8/2025). Upaya itu menjadi cerminan solidaritas dari rakyat untuk rakyat yang tengah berjuang melawan kebijakan pemimpin yang tidak berpihak pada mereka.
Beberapa pekan terakhir masyarakat Pati dibuat geram dengan kebijakan Bupati Pati Sudewo yang menaikkan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) hingga 250 persen. Warga sudah melayangkan protes melalui berbagai cara, tetapi Sudewo awalnya enggan mengubah keputusannya. Kondisi itu lantas membuat warga merencanakan demonstrasi besar-besaran untuk menolak kebijakan itu.
Untuk mendukung kelancaran demonstrasi, warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Pati Bersatu membuka posko penerimaan donasi mulai Jumat (1/8/2025) di sekitar Kantor Bupati Pati. Sejak saat itu bantuan dari sejumlah warga mulai berdatangan.
Kemudian, pada Selasa (5/8/2025), sejumlah petugas dari satuan polisi pamong praja mendatangi posko tersebut. Dengan dalih mengganggu aktivitas warga di fasilitas umum, petugas meminta warga memindahkan posko. Permintaan yang ditolak warga itu berujung pada cekcok hingga penyitaan sejumlah barang donasi. Peristiwa itu pun memicu solidaritas lebih kuat dari warga.
”Awalnya desa kami cuma mengirimkan air mineral dan makanan ringan. Tetapi, setelah tahu logistik di posko itu dirampas petugas, kami jadi semakin semangat untuk berdonasi lagi. Kemudian, kami memutuskan untuk menyumbang pisang lima tandan,” kata Kuswanto (40), warga Kecamatan Sukolilo, Pati.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/13/243136cd-8e94-45e2-b4fe-2c56881e12ff_jpg.jpg)
Pisang yang didonasikan adalah pisang putri. Pisang jenis itu merupakan salah satu hasil bumi khas Sukolilo. Kendati harganya tidak semahal pisang lain, pisang putri disebut Kuswanto memiliki cita rasa yang unik, gabungan antara manis dan asam.
Menurut Kuswanto, donasi-donasi yang diberikan warga dari desanya itu dilakukan sebagai bentuk solidaritas bagi sesama warga yang hendak melakukan demonstrasi atas kebijakan Sudewo yang dinilai tak berpihak pada rakyat kecil. Warga di desanya disebut Kuswanto paling berkeberatan dengan kebijakan kenaikan pajak sebesar 250 persen.
Kendati kebijakan itu sudah dibatalkan seusai diprotes warga, mereka tetap kesal karena ternyata masih ada sejumlah kebijakan Sudewo yang dinilai merugikan. Kuswanto mengatakan, kebijakan yang merugikan itu antara lain pemberhentian pekerja Rumah Sakit Umum Daerah RAA Soewondo dan kebijakan sekolah lima hari dalam sepekan yang mengganggu aktivitas mengaji anak-anak pada sore hari.
Tak hanya kelompok warga, sumbangan juga dilakukan individu-individu. Retno (57), warga Kecamatan Pati, salah satunya. Perempuan yang sehari-hari berdagang roti itu menyumbangkan 100 bungkus roti untuk logistik demonstrasi. Pada Rabu, Retno rela menutup toko rotinya untuk mengikuti demonstrasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/13/0efdb38e-f9cc-4c59-a0f9-59e6f64220a9_jpg.jpg)
Retno mengikuti demonstrasi untuk menyuarakan aspirasinya bersama dengan sekitar 100.000 warga Pati lainnya. Ia berharap, Sudewo yang membuat dirinya harus membayar pajak dari yang sebelumnya Rp 150.000 per tahun menjadi sekitar Rp 500.000 per tahun itu dilengserkan.
”Sudewo harus lengser karena dia arogan, sombong sekali, dan semena-mena sama rakyat kecil. Janji-janjinya juga tidak sesuai dengan waktu nyalon bupati. Totalitas kami dibohongi semua,” ujar Retno.
Sejak Rabu pagi, kira-kira pukul 07.30 WIB, ribuan warga berdatangan ke lokasi demonstrasi. Mayoritas mereka datang berombongan dengan tetangga sekampung. Warga Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, misalnya, datang dengan menaiki truk. Mereka rela bangun pagi, menempuh perjalanan sekitar 18 kilometer untuk ikut berdemontrasi.
”Ini satu kampung, sekitar 2.000 orang datang ke sini semua, ikut demonstrasi. Khusus hari ini, kami semua libur kerja, yang penting Sudewo lengser dulu. Masalah uang, besok lagi bisa dicari,” ucap salah satu warga Kajen, Trio Adhi Saputra (24).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/13/1dd9a96c-b21d-4d3e-be9d-45e481e86e9f_jpg.jpg)
Menurut Trio, warga di desanya menginginkan Sudewo lengser karena kecewa dengan sikap Bupati Pati yang ke-44 tersebut. Selain membuat sejumlah kebijakan yang dinilai merugikan rakyat, Sudewo juga disebut tidak mau mendengarkan rakyat.
Trio mengatakan, pemimpin seharusnya mau mendengarkan keluhan rakyat. Saat diprotes warga terkait kebijakan kenaikan pajak 250 persen, Sudewo justru dinilai menantang rakyat. Waktu itu, Sudewo sempat mengatakan, meski diprotes 50.000 warga, dirinya tidak akan gentar dan tidak akan mengubah keputusannya menaikkan pajak 250 persen.
Setelah video pernyataannya viral, Sudewo ditegur sejumlah pihak, dari Gubernur Jateng Ahmad Luthfi hingga Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian. Mereka meminta Sudewo mendengarkan aspirasi rakyat. Kemudian, Sudewo akhirnya membatalkan kebijakan kenaikan pajak itu.
Ini satu kampung, sekitar 2.000 orang datang ke sini semua, ikut demonstrasi. Khusus hari ini, kami semua libur kerja, yang penting Sudewo lengser dulu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/13/409af6dd-9086-440e-8912-72a1406ee2c6_jpg.jpg)
Dalam demontrasi pada Rabu, kericuhan terjadi karena tuntutan massa aksi agar Sudewo keluar dari kantornya tak segera dituruti. Massa yang kesal sempat menggoyang pagar depan dan samping kantor bupati. Selain itu, mereka juga melempar air mineral dalam kemasan ke arah kantor bupati.
Tindakan massa membuat polisi kewalahan. Setelah tidak berhasil mengimbau massa supaya berhenti melempar air mineral dalam kemasan dan menggoyang pagar, polisi menembakkan air dari kendaraan water cannon, kemudian menembakkan gas air mata berkali-kali ke arah massa aksi.
Massa aksi lantas lari berhamburan menjauhi kantor bupati. Dalam peristiwa itu, sebagian orang, terutama para perempuan dan anak-anak, mengeluhkan sesak napas dan mata perih. Beberapa di antara mereka juga pingsan hingga harus dievakuasi ke rumah sakit.
Berdasarkan data Kepolisian Daerah Jateng, sedikitnya 34 orang terluka dalam demonstrasi itu. Sebanyak tujuh orang yang terluka merupakan polisi dan sisanya massa aksi. Selain sesak napas, sebagian dari mereka juga menderita luka terbuka dan lebam.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/13/28c15e17-dcb4-4d41-8df7-9dfd02bedb48_jpg.jpg)
Kepala Bidang Humas Polda Jateng Komisaris Besar Artanto mengatakan, tidak ada korban meninggal dalam demonstrasi itu. ”Kabar terkait adanya korban meninggal dunia tersebut sudah kami telusuri. Sampai sore ini, tidak ada korban jiwa,” katanya.
Sementara itu, Sudewo mengatakan, masyarakat dan polisi yang terluka dalam demonstrasi sedang ditangani di sejumlah rumah sakit. Ia berharap, mereka yang terluka bisa segera pulih.
Sudewo mengatakan, demonstrasi yang terjadi bisa menjadi pembelajaran bagi warga Pati dan juga dirinya. Ia berjanji akan memperbaiki kesalahannya selama beberapa bulan pertama menjabat. ”Masih banyak kekurangan, masih banyak kelemahan yang harus kami benahi ke depan,” ucapnya.
Saat ditanya terkait tuntutan masyarakat agar dirinya mundur, Sudewo mengatakan, hal itu tidak bisa dilakukan. ”Saya, kan, dipilih oleh rakyat secara konstitusional dan secara demokratis. Jadi tidak bisa kalau saya harus berhenti dengan tuntutan itu, mundur dengan tuntutan seperti itu,” ujar Sudewo.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/12/a4da1774-63b2-4325-bc46-e6c9a8395193_jpg.jpg)
Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu Ahmad Husein (29) mengatakan, massa aksi berencana kembali berdemontrasi di depan Kantor Bupati Pati pada Kamis (14/8/2025). Menurut dia, demonstrasi bakal terus dilakukan hingga Sudewo lengser.
”Kalau hari ini tidak lengser, besok demonstrasi lagi. Kami tetap lanjut sampai Sudewo lengser. Dia mau dilengserkan masyarakat atau turun sendiri?” ujar Husein.
Penulis:
Kristi Dwi UtamiEditor:
Haris FirdausPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto