Kecepatan Trump untuk menghentikan perang Ukraina-Rusia, termasuk menelepon Putin, mengagetkan semua pihak, bahkan juga Moskwa. Ia memberi konsesi besar pada Rusia.
16 Feb 2025 15:12 WIB · Internasional
Perundingan untuk menghentikan perang Ukraina-Rusia coba dirintis Presiden AS Donald Trump. Terlepas dari berbagai upaya yang dilakukan banyak pihak, ada satu hal penting yang harus digarisbawahi. Perdamaian tidak akan dapat dicapai melalui jalan pintas, terutama jika itu menyangkut kapitulasi wilayah.
Pada Jumat (14/2/2025), Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bertemu dengan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance di Konferensi Keamanan Muenchen, Jerman. Dua hari sebelumnya, pada Rabu (12/2/2025), Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth berbicara pada pertemuan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Brussels, Belgia.
Hegseth mengatakan hal yang menuai kritik negara-negara Eropa dan anggota NATO. Menurut dia, tidak ada gunanya dunia mengharapkan batas wilayah Ukraina kembali seperti sebelum 2014.
Itu adalah masa sebelum, seperti disebut Barat, Rusia mencaplok Semenanjung Crimea pada 2014. Moskwa membantah telah mencaplok Crimea dengan alasan bergabungnya Crimea—yang secara faktual diakui menjadi bagian dari Ukraina setelah runtuhnya Uni Soviet pada 1991—ke Rusia didasarkan pada hasil referendum 16 Maret 2014.
Rusia kemudian menduduki empat wilayah lain, yaitu Luhansk, Donetsk, Zaporizhzhia, dan Kharkiv, sejak mereka menginvasi Ukraina per 24 Februari 2022.
Hegseth menuturkan, dunia harus berpikir realistis. Pertama, Ukraina tidak mungkin bergabung dengan NATO jika ingin perang ini selesai dan ada jaminan perdamaian jangka panjang.
”Kedua, perbatasan Ukraina tidak akan kembali seperti pra-2014 dan ini bukan berarti mengakui konsesi kepada (Presiden Rusia Vladimir) Putin. Kita harus menerima kenyataan keras di lapangan setelah ada banyak investasi dan pengorbanan, kedua belah pihak ternyata saling tidak menerima garis demarkasi yang diusulkan,” kata Hegseth, seperti dikutip The Hill, 14 Februari 2025.
Beberapa jam sebelum Hegseth berbicara di hadapan para delegasi negara anggota NATO, Trump menelepon Putin. Rusia tetap berpendirian bahwa Ukraina harus menjadi zona penyangga yang netral, tidak boleh bergabung kepada blok pertahanan tertentu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/16/20b6809e-b426-4b92-8acd-8e07156b8357_jpg.jpg)
Menhan Jerman Boris Pistorius dalam pertemuan NATO tersebut menuduh AS berpihak kepada Rusia. Apalagi, selama ini, Eropa, NATO, dan AS di bawah Presiden Joe Biden (2021-2025) berusaha mengisolasi Rusia dan memandatkan agar Rusia meninggalkan wilayah-wilayah Ukraina yang mereka duduki.
”Sekarang, perundingan damai belum berlangsung, tetapi AS sudah memberi konsesi publik kepada Putin,” kata Pistorius.
Sementara Eropa ketar-ketir menghadapi pernyataan Hegseth itu, Rusia dilaporkan menyambut inisiasi Washington dengan senang hati. Evgeny Popov, pembawa acara program 60 Minut, di kanal Russia-1 yang terafiliasi Kremlin mengatakan bahwa Rusia sejak awal memang ingin mempreteli Eropa.
”Tak disangka, ternyata Trump yang mewujudkannya,” kata Popov di dalam siaran tersebut.
Para komentator pro-Rusia justru kaget dengan kecepatan Trump melakukannya. Mereka tahu kepresidenan Trump menguntungkan bagi Rusia. Akan tetapi, mereka tidak mengira semua terjadi kurang dari satu bulan Trump menjabat sebagai presiden AS.
Seperti dilansir harian The Independent, Direktur Jenderal Mosfilm Karen Shakhnazarov ketika diwawancara Russia-1 mengatakan, rangkaian kejadian ini adalah kesuksesan bagi Rusia.
”Presiden AS menelepon Presiden Rusia setelah sanksi dan isolasi saja itu sudah mengembalikan pamor internasional Rusia,” kata Shakhnazarov.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/16/4d59706f35000373b0c81040f195d07b-Russia_Daily_Life_127484532.jpg)
Faktor lain yang ditanggapi baik oleh Rusia adalah ucapan Hegseth. Intinya, AS memilih fokus pada beberapa persoalan keamanan di dalam negeri. Menurut dia, AS sudah menepati janji memberikan dukungan dana dan keamanan bagi Eropa.
Hegseth mengulangi keluhan Trump bahwa belum semua anggota NATO memenuhi komitmen iuran 2 persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara masing-masing. Oleh sebab itu, Trump menganggap NATO mendompleng kerja keras AS.
”Bisa dibilang, soal pendanaan di masa depan patut dirundingkan kembali,” ucap Hegseth.
Program 60 Minut dan Siaran Malam bersama Vladimir Solovyov di Rusia-1 mulai mengatakan bahwa ini pertanda AS meninggalkan Pasal 5 di dalam Piagam NATO. Pasal ini menyatakan, serangan terhadap satu atau lebih negara NATO dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota NATO sehingga seluruh anggota wajib membantu negara yang diserang itu.
Namun, menurut perkiraan Solovyov, jika saat ini salah satu anggota NATO diserang, AS tidak akan turun tangan membela.
”Secara teoritis, kita bisa saja menyerang London atau Brussels dan AS tidak akan ikut campur. Fakta ini patut dipahami dengan jelas oleh negara-negara Eropa,” ujar Sergey Mikheyev, pengamat politik Rusia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/16/8d56d2f13abb95d7fafe0c3688120cc8-FILES_DENMARK_NATO_DEFENCE_SECURITY_POLITICS_DIPLOMACY_127474771.jpg)
Trump sejak masih berkampanye sebelum pemilihan umum presiden AS November 2024 telah menggembar-gemborkan kemampuannya menyelesaikan perang Ukraina-Rusia. Ketika itu, ia mengatakan bisa menghentikan peperangan dalam semalam hanya berbekal telepon dan kedekatannya dengan Putin.
Trump dalam jumpa pers di Gedung Putih, Kamis (13/2/2025), mengatakan bahwa perang Ukraina sungguh sia-sia. ”Banyak sekali anak-anak muda rupawan yang tewas begitu saja. Ini perang yang tak masuk akal,” ujarnya.
Trump akhirnya memang menelepon Putin. Sumber-sumber di Gedung Putih mengungkapkan, kedua kepala negara berbicara selama 1,5 jam. Akan tetapi, bukan begini perkembangan yang diharapkan publik. Selama ini, AS dan Eropa berjanji tidak ada pembicaraan mengenai Ukraina tanpa melibatkan Kyiv.
Perbuatan Trump dinilai sekadar mengambil jalan pintas. Hal ini seolah-olah menunjukkan, bagi Trump, selama perang selesai, masalah juga selesai. Ia tidak memikirkan perdamaian ataupun keadilan jangka panjang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/13/854a6399846e115829b53c858923239b-000_36XK4QG.jpg)
”Trump ingin mengakhiri perang dengan segala cara yang mirip dengan Neville Chamberlain,” kata Ivo Daalder, mantan Duta Besar AS untuk NATO, kepada harian Los Angeles Times.
Chamberlain adalah perdana menteri Inggris periode 1937-1940. Ia menandatangani Perjanjian Muenchen yang mengakui kapitulasi Nazi Jerman atas Sudetenland yang sejatinya milik Cekoslowakia agar konflik terbuka segera usai. Langkah Chamberlain ini kemudian dianggap sebagai salah satu faktor pembuka jalan Nazi melakukan berbagai invasi di Eropa.
”Setelah 76 tahun, AS kini menjadi mitra yang tak bisa diandalkan. Putin akan semakin percaya diri,” kata Daalder yang kini menjabat sebagai Ketua Dewan Kebijakan Luar Negeri Chicago (CCGA).
Di Indonesia, pandangan mengenai pelibatan Ukraina dan negara-negara Eropa untuk perundingan damai juga telah dikemukakan perwakilan negara Polandia dan Finlandia. Kapitulasi atau pengakuan wilayah yang diduduki oleh penjajah bukan pilihan. Baru-baru ini Denmark juga mengutarakan hal senada.
”Bagaimanapun juga, Eropa yang langsung terdampak oleh perang Ukraina karena terjadi benar-benar di hadapan kami. Tentu sewajarnya semua pihak yang bersinggungan langsung dengan konflik ini yang harus duduk bersama dan berunding,” kata Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Sten Fremodt Nielsen, di Jakarta, Sabtu (15/2/2025).
Di tengah dinamika saat ini, Zelenskyy tetap pada pendirian bahwa Ukraina tidak boleh ditelikung siapa pun, termasuk AS yang selama ini banyak membantu mereka dari segi biaya dan persenjataan. Awalnya, Zelenskyy sudah berbicara kepada Trump dan setuju Ukraina memberikan porsi lebih besar dari logam tanah jarang mereka untuk AS.
Logam tanah jarang adalah gabungan dari 17 mineral yang penting di dalam membuat cip ataupun peralatan elektronik canggih. Bagi AS, logam tanah jarang adalah kebutuhan pokok untuk mengembangkan industri militer mereka.
Zelenskyy akhirnya memerintahkan para menterinya agar tidak menandatangani perjanjian apa pun dengan AS. Apalagi, yang menyangkut ekskavasi dan ekstraksi logam tanah jarang karena AS tidak menunjukkan sikap mau melindungi Ukraina ataupun kepentingannya.
Ia juga mengatakan bahwa perundingan damai harus didukung banyak pihak. ”Negosiasi dengan Putin hanya bisa dilakukan ketika ada kesamaan pandangan antara Ukraina, Eropa, dan AS,” cuit Zelenskyy di X. (AP/Reuters)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari