Mendukung langsung tim sepak bola di Piala Dunia merupakan misi suci bagi para suporter. Namun, di Amerika Serikat, kultur bola itu terbentur kekakuan regulasi visa.
13 Jun 2026 13:42 WIB · Olahraga
Antara Foto/Aditya Pradana Putra/foc.
Presiden FIFA Gianni Infantino dengan optimistis menjamin semua tim yang lolos ke Piala Dunia 2026 bisa datang bersama suporternya, tahun lalu. Dia sesumbar ingin menyatukan dunia melalui sepak bola dan menjadikan Piala Dunia di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sebagai ajang terakbar dan tersukses.
Namun, regulasi izin perjalanan yang diterapkan dengan kaku oleh Amerika Serikat kini menjadi tembok yang menghalangi para suporter dari sejumlah negara untuk menjalani tugas sucinya, mendukung skuad tim nasional mereka berlaga di Piala Dunia.
Kontroversi terkait pemeriksaan keamanan serta izin perjalanan atau visa untuk masuk ke Amerika Serikat sudah menjadi isu serius jauh sebelum Piala Dunia bergulir. Oleh karena itu, Infantino memberikan klarifikasi pada 2025.
”Saya rasa penting untuk mengklarifikasi hal ini. Ada banyak kesalahpahaman di luar sana. Semua orang akan disambut di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat untuk Piala Dunia FIFA tahun depan. Kami sedang berupaya untuk mewujudkan itu,” ujar Infantino dalam konferensi pers di Nairobi, Kenya, yang diunggah di laman resmi FIFA pada 31 Agustus 2025.
”Pada Piala Dunia Antarklub FIFA tahun ini, kami memiliki penggemar yang datang (ke Amerika Serikat) dari 164 negara berbeda tanpa masalah. Tentu saja, ada proses yang harus dilalui untuk mendapatkan visa dan sebagainya. Proses ini akan berjalan lancar dan akan memastikan bahwa mereka yang lolos kualifikasi dapat datang bersama penggemar mereka,” ucap Infantino menegaskan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/11/5898ae5aff6c0dce61efaa66eedadf19-antarafoto_pernyataan_presiden_fifa_jelang_piala_dunia_2026_1781148689.jpg)
Stadion-stadion di Amerika Serikat menjadi tujuan utama para penggemar sepak bola karena dari total 16 kota penyelenggara, 11 di antaranya ada di sana. Infantino pun beberapa kali bertemu dengan Presiden AS Donald Trump dan berkoordinasi dengan otoritas terkait untuk menyederhanakan prosedur imigrasi.
”Kita harus mengusahakan itu. Kita harus membuat itu lebih baik, lebih sederhana. Namun, pasti ada komitmen dari pemerintah di Amerika Serikat untuk memastikan bahwa prosesnya berjalan lancar sehingga penggemar dari seluruh dunia akan disambut,” kata Infantino.
”Kami ingin menyatukan dunia dan kami akan menyatukan dunia tahun depan,” ucap Infantino.
”Dunia membutuhkan kesempatan untuk bersatu, untuk menyatukan tim, untuk menyatukan orang, untuk menyatukan penggemar. Kami mengharapkan jutaan penggemar datang ke Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko tahun depan. Kami ingin ini menjadi sebuah perayaan dan semua orang berkomitmen untuk mewujudkan itu. Jadi, sekali lagi, semua orang akan disambut, bersikap positif, dan Anda akan melihat bahwa ini akan menjadi perayaan yang luar biasa dari Piala Dunia FIFA terbesar yang pernah ada,” janji Infantino.
Namun, begitu Piala Dunia 2026 mulai bergulir, masalah keimigrasian menjadi batu sandungan bagi sebagian suporter, staf tim nasional, bahkan wasit yang akan memimpin laga. Kontroversi menjelang Piala Dunia ini adalah penolakan masuk AS terhadap wasit asal Somalia, Omar Artan, padahal sudah memegang visa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/09/15cef38b4f4e4b0278b0b30a0009ab8e-wires_photo_5.jpg)
Wasit berusia 34 tahun yang merupakan wasit terbaik Afrika itu ditolak masuk AS dengan alasan ”vetting concern”, yaitu proses pemeriksaan atau penilaian latar belakang, kelayakan, dan rekam jejak secara mendalam. Dia menjalani interogasi di imigrasi Bandara Miami selama 11 jam sebelum akhirnya ditolak masuk AS, Senin (8/6/2026).
FIFA merespons dengan menyatakan bahwa mereka tidak memiliki kekuatan untuk mencampuri urusan imigrasi pemerintah negara tuan rumah.
”Kami bukanlah raja dunia yang bisa memerintah pemerintahan dan kepolisian. Kami adalah organisasi olahraga. Kami melakukan yang terbaik dengan cara yang harus kami lakukan semaksimal mungkin,” ujar Infantino dalam konferensi pers, Kamis (11/6/2026).
Artan kemudian mendapat dukungan besar dan oleh UEFA ditunjuk sebagai pemimpin laga level tinggi Piala Super Eropa antara Paris Saint-Germain dan Aston Villa di Salzburg pada 12 Agustus mendatang.
”Sepak bola diciptakan untuk menghubungkan orang, dan UEFA ingin menunjukkan rasa hormatnya kepada Omar dan keterampilan perwasitannya yang telah membuat dia mendapatkan nominasi bergengsi tersebut. Saya berterima kasih kepada teman saya, Presiden CAF Patrice Motsepe, atas dukungannya yang antusias terhadap inisiatif kami,” ujar Presiden UEFA Aleksander Ceferin, Rabu (11/6/2026).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/11/7d98620c473b881ad20d3753b0ba34a5-20260611_ARS_Negera_Peserta_piala_dunia_2026_mumed.png)
Penolakan masuk AS yang dialami oleh Omar Artan itu terjadi setelah video yang beredar luas terkait pemeriksaan tim Uzbekistan, termasuk pelatihnya, mantan bek tengah Italia Fabio Cannavaro. Tim nasional Senegal juga mengalami pemeriksaan ketat di dekat area parkir pesawat.
Pemeriksaan itu diklaim sebagai prosedur standar untuk memastikan keamanan meskipun tidak semua tim mengalami pemeriksaan seperti Uzbekistan dan Senegal.
Hal itu kontras dengan di Meksiko, tuan rumah lainnya. Di sana, tim nasional Spanyol disambut dengan tari-tarian dan atraksi budaya. Meksiko menunjukkan tradisi sepak bola sejati yang menyambut kontingen sebagai sahabat sehingga kedatangan disambut dengan gembira.
Ini pertama kalinya kami tidak akan mengirim delegasi karena pembatasan terkait pemberian visa oleh Amerika Serikat.
Kontroversi tidak berhenti di situ. Suporter dari Pantai Gading dan Senegal juga batal terbang ke Amerika Serikat untuk mendukung timnya karena tidak mendapat visa. Pantai Gading dan Senegal termasuk dalam 19 negara yang dilarang mendapatkan semua visa imigran dan semua visa turis, pelajar, serta pertukaran pelajar (visa B-1, B-2, B-1/B-2, F, M, dan J).
Regulasi ini diterapkan secara kaku oleh Amerika Serikat sehingga para penggemar sepak bola dari kedua negara itu tidak bisa mendukung langsung kesebelasan mereka di Amerika.
”Para suporter telah membatalkan perjalanan karena Pemerintah AS tidak ingin melihat pendukung dari negara-negara tertentu, termasuk Pantai Gading, di wilayahnya. Amerika Serikat telah dengan jelas menyatakan kepada kami bahwa mereka tidak ingin melihat pendukung kami,” kata Julien Kouadio Adonis, Presiden Komite Nasional Pendukung Skuad Gajah Pantai Gading (CNSE).
”Situasi ini sangat mengecewakan kami karena menghalangi kami untuk memenuhi tugas suci kami, yaitu mendukung tim kami,” ujar Adonis menambahkan.
Bagi para pencinta sepak bola, mendukung tim nasional di ajang Piala Dunia merupakan perjalanan spiritual. Apalagi, untuk lolos ke ajang empat tahunan ini sangat sulit dan panjang.
Kelompok suporter Pantai Gading dinaungi oleh kementerian olahraga negara tersebut untuk mengatur perjalanan bagi sejumlah kecil penggemar negara itu untuk mengikuti tim ke luar negeri.
Pantai Gading memainkan dua dari tiga pertandingan Grup E di Philadelphia, yaitu melawan Ekuador pada 15 Juni dan Curacao pada 26 Juni, serta di Toronto melawan Jerman pada 21 Juni. Jumlah suporter yang akan terbang ke Amerika, dikatakan oleh Adonis, sekitar 500 orang pada Maret lalu.
Setali tiga uang, para suporter Senegal juga tidak akan bisa mendukung langsung timnya dalam laga-laga di Amerika. Maka, untuk pertama kalinya, Senegal tidak akan didukung oleh suporter yang tinggal di negara itu. Edisi 2026 merupakan penampilan keempat Senegal di Piala Dunia setelah 2002, 2018, dan 2022.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/30/6d129498-e120-48b1-911b-db98894efd83.jpg)
”Ini pertama kalinya kami tidak akan mengirim delegasi karena pembatasan terkait pemberian visa oleh Amerika Serikat,” kata Ndeye Dome Thiouf, penasihat komunikasi Kementerian Olahraga Senegal.
Kementerian Senegal sudah berusaha mengirim para pemimpin berbagai organisasi suporter dengan biaya ditanggung negara, tetapi permohonan visa tetap ditolak oleh AS.
”Secara pribadi, saya kecewa. Saya pikir menyelenggarakan Piala Dunia seharusnya tidak menimbulkan begitu banyak masalah,” ujar Pape Mass Gueye, ketua kelompok suporter Lebougui.
Pemerintah Senegal kemudian mengambil inisiatif dengan mendistribusikan 400 tiket per pertandingan kepada warga Senegal yang tinggal di AS. Senegal memulai persaingan Grup I melawan Perancis pada 17 Juni di New Jersey, kemudian melawan Norwegia pada 23 Juni juga di New Jersey, dan melawan Irak di Toronto pada 27 Juni.
Kontroversi terus terjadi dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2026 dengan pembatalan seluruh tiket untuk suporter Iran. Padahal, berdasarkan peraturan FIFA, setiap negara peserta mendapatkan 8 persen tiket untuk setiap pertandingan yang dialokasikan kepada federasi mereka untuk didistribusikan secara resmi kepada suporter.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/22/2f512df2e6b08baf7939c26245f75bdf-WhatsApp_Image_2026_04_22_at_10.19.50.jpeg)
Namun, Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) pada Selasa lalu mengklaim bahwa alokasi tersebut telah dicabut beberapa hari sebelum laga pembuka Grup G, yaitu Iran melawan Selandia Baru di Los Angeles, pada 15 Juni.
”Dalam langkah yang tak terduga, alokasi yang diberikan kepada Federasi Sepak Bola Iran telah ditarik. Dalam keadaan saat ini, federasi tidak dapat menyediakan satu pun tiket kepada pendukung tim nasional,” ujar pernyataan FFIRI.
Iran sebelumnya telah mengalami masalah penolakan visa bagi para staf kunci tim. Mereka pun mengecam AS melakukan diskriminasi dan menghalangi suporter mendukung timnya.
Kesulitan yang dialami oleh Iran, akibat ketegangan geopolitik, itu menyatukan suporter diaspora untuk mendukung timnya yang bermarkas di Meksiko. Sejumlah suporter menyambut tim pada Minggu lalu sebagai dukungan moral.
”Saya sangat senang bertemu mereka,” kata Sadegh Galavi, pendukung Iran, saat menyaksikan bus para pemain meninggalkan bandara di Tijuana, disambut sorak-sorai sekitar selusin penggemar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/09/07b3246e07d6ad792bd84c96e50f91eb-000_B6F89Y7.jpg)
”Tim nasional saya datang ke kota saya dan berada di sini adalah hal kecil yang dapat saya lakukan hanya untuk menyambut mereka,” ujar Galavi yang berprofesi sebagai mekanik di Tijuana.
”Ini tidak masuk akal bagi saya. Olahraga seharusnya menjadi simbol perdamaian. Jadi, ketika Anda mencampur politik dan olahraga, itu tidak berhasil,” ujar Galavi yang berusia 30 tahun. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Agung SetyahadiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar