Apa saja yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Bagaimana elektabilitas calon di Pilkada Jabar berdasarkan hasil survei Litbang Kompas?
- Faktor apa saja yang membuat elektabilitas Dedi Mulyadi-Erwan jauh mengungguli kompetitornya?
- Seberapa besar pemilih bimbang mampu memengaruhi konstelasi Pilkada Jabar?
- Apakah pemilih parpol solid mendukung calon yang diusung parpol?
- Bagaimana strategi parpol membendung pemilihnya agar tak ”lari” ke calon lain?
- Siapa yang meraup limpahan suara terbesar dari pemilih Ridwan Kamil?
- Bagaimana respons Dedi Mulyadi cs setelah melihat survei Litbang Kompas?
- Bagaimana pula respons dari para pesaing Dedi-Erwan?
- Apa saja tantangan cagub-cawagub Jabar terpilih?
Bagaimana elektabilitas calon di Pilkada Jabar berdasarkan hasil survei Litbang Kompas?
Hasil survei Litbang Kompas (Kompas.id) pada 1-9 November 2024 di setiap kabupaten dan kota di Jawa Barat menunjukkan hampir dua pertiga bagian pemilih di Jabar (65 persen) mengaku memilih pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan di pilkada mendatang.
Posisi selanjutnya, pasangan calon (paslon) Ahmad Syaikhu-Ilham Akbar Habibie dengan penguasaan 9 persen pemilih. Dua paslon lainnya, yakni Jeje Wiradinata-Ronal Surapradja dan Acep Adang Ruhiat-Gitalis Dwi Natarina, ada di posisi selanjutnya dengan dukungan pemilih di bawah 5 persen.
Kondisi itu membuat tak mudah bagi tiga paslon lain untuk mengejar elektabilitas Dedi-Erwan. Terlebih, hanya tinggal 17,3 persen pemilih yang belum menyatakan pilihannya.
Faktor apa saja yang membuat elektabilitas Dedi Mulyadi-Erwan jauh mengungguli kompetitornya?
Survei Litbang Kompas di Pilkada Jabar menunjukkan tingkat kesukaan terhadap pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan mencapai 92,1 persen. Angka kesukaan ini dominan melampaui tiga pasangan calon yang lain.
Dilihat dalam berbagai kesempatan, Dedi memainkan komunikasi politik yang mencitrakan dirinya sebagai orang asli Sunda dan sosok yang dekat dengan rakyat. Hal ini ditangkap pula dalam survei ini dengan 55,1 persen responden yang menilai karakter personal (kemampuan memimpin, merakyat, berwibawa) menjadi kelebihan pasangan Dedi-Erwan.
Selain itu, sebanyak 16,7 persen responden menilai kelebihannya terletak pada kinerja dan pengalaman. Kemudian, sebanyak 13,2 persen responden melihat kelebihan Dedi-Erwan banyak memberi bantuan.
Pendekatan budaya yang dilakukan Dedi Mulyadi, dalam survei ini, juga dominan dalam setiap regio sosial budaya. Wilayah Jawa Barat dapat dibagi menjadi enam wilayah sosial budaya, yakni Bandung Raya, Bodebek, Priangan Barat, Priangan Timur, Ciayumajakuning, dan Purwasuka. Di keenam wilayah ini, suara Dedi-Erwan mendominasi dengan nilai kesemuanya di atas 50 persen.
Seberapa besar pemilih bimbang mampu memengaruhi konstelasi Pilkada Jabar?
Masih mengacu dari hasil survei Litbang Kompas, proporsi mereka yang masih mungkin berubah pilihan mencapai 34 persen, sedangkan yang belum menentukan pilihan 17,3 persen.
Terdapat sejumlah alasan yang membuat responden belum memutuskan pilihan. Jika dikelompokkan dari hasil survei, ada dua bagian besar yang menjadi alasan responden mengambil keputusan tersebut, yakni belum mengenal sosok calon gubernur-wakil gubernur dan ketidaksesuaian dengan calon-calon yang ada.
Mereka yang belum mengenal calon sosok pemimpinnya ini masih menunggu kampanye/debat (39,2 persen) dan menunggu saran dari orang yang mereka percaya (18,3 persen).
Apakah pemilih parpol solid mendukung calon yang diusung parpol?
Dukungan bagi pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan tidak hanya datang dari pendukung partai politik pengusungnya. Limpahan suara juga berpotensi datang dari simpatisan partai yang bukan pendukung pasangan ini.
Hal ini salah satunya bisa terdeteksi dari para pemilih PDI-P. Berdasarkan hasil survei kali ini, sebanyak 77,3 persen dari pemilih PDI-P mengalirkan suaranya ke pasangan Dedi-Erwan. Fenomena yang mirip juga terjadi di para pemilih PKB. Dalam pilkada kali ini, PKB secara mandiri mengusung pasangan Acep Adang Ruhiat-Gitalis Dwi Natarina.
Serupa, suara dari pemilih PKS sebagai partai dengan perolehan suara legislatif provinsi terbesar kedua di Jawa Barat pun terpecah. Hal ini terindikasi dari suara konstituen mereka yang hanya mengalir sekitar 35,4 persen ke pasangan Ahmad Syaikhu-Ilham Akbar Habibie. Sebagian besar dari para pemilih partai ini pun justru menyatakan ingin memilih pasangan Dedi-Erwan di bilik suara nanti.
Bagaimana strategi parpol membendung pemilihnya agar tak ”lari” ke calon lain?
Sekretaris Jenderal DPP PKS Habib Aboe Bakar Al Habsyi mengatakan, sisa waktu kampanye selama sekitar dua pekan atau hingga 23 November mendatang bakal diintensifkan oleh PKS untuk ”mengembalikan” pemilih partai agar memilih pasangan yang diusung partai.
Ketua Fraksi PKS di DPR Jazuli Juwaini menambahkan, salah satu caranya, anggota DPRD/DPR PKS dari Jabar akan dikerahkan untuk mengoptimalkan pemenangan Syaikhu-Ilham. ”Bukan sekadar bergerak, melainkan bisa jadi kita akan minta mereka juga iuran semuanya untuk kemenangan Pilkada Jawa Barat, DKI, bahkan Banten ini,” katanya.
Sementara itu, Ketua DPP PKB Syaiful Huda mengatakan, berbagai strategi pemenangan bakal disiapkan, mulai dari memaksimalkan debat Pilkada Jabar hingga melibatkan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dalam kampanye terbuka di Jawa Barat. Selain itu, kampanye ”udara” di media sosial juga akan dimasifkan, terutama konten-konten dari debat pilkada.
Siapa meraup limpahan suara terbesar dari pemilih Ridwan Kamil?
Jika ditelusuri latar belakang pemilih pasangan Dedi-Erwan, terutama jika dikaitkan dengan pilihan mereka saat di Pilkada Jabar 2018, sebagian besar pemilih Ridwan Kamil yang saat itu berpasangan dengan Uu Ruzhanul Ulum menyeberang beralih mendukung pasangan Dedi-Erwan di Pilkada Jabar 2024 ini.
Sebanyak 68,1 persen dari kelompok pemilih Ridwan yang saat ini maju menjadi calon gubernur Jakarta tersebut memberikan dukungan kepada pasangan Dedi-Erwan.
Pola yang relatif sama juga didapatkan dari kelompok pemilih Dedi saat maju di Pilkada Jabar 2018 lalu. Saat itu, Dedi menjadi calon wakil gubernur mendampingi calon gubernur Deddy Mizwar. Sebanyak 85,3 persen pemilih Deddy-Dedi di pilkada 5 tahun lalu berniat akan mencoblos pasangan Dedi-Erwan di pilkada yang akan digelar pada 27 November 2024 mendatang.
Bagaimana respons Dedi Mulyadi cs setelah melihat survei Litbang Kompas?
Pasangan calon nomor urut 4, Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan, bakal menjaga momentum keunggulan di Pemilihan Kepala Daerah Jawa Barat seperti terlihat dari hasil survei Litbang Kompas. Elektabilitas tinggi yang diperoleh tidak akan membuat Dedi-Erwan terlena. Dedi-Erwan bersama partai politik pengusung dan tim sukses akan tetap tancap gas mengintensifkan kampanye.
Bagaimana pula respons dari para pesaing Dedi-Erwan?
Semua pesaingnya ikut mengamini elektabilitas Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan seperti terpotret dari hasil survei Litbang Kompas. Meski demikian, tiga cagub-cawagub Jabar yang jadi kompetitor Dedi-Erwan di Pilkada Jabar akan tetap berusaha untuk bisa memenangi Pilkada Jabar.
Selain itu, lebih dari sekadar angka elektabilitas, pencapaian Dedi-Erwan mencerminkan tingginya ekspektasi warga Jabar untuk hidup lebih baik.
Arisyal (35), warga Padalarang, Bandung Barat, misalnya, berharap kemiskinan tidak merajalela. Lapangan pekerjaan dan upah layak mesti menjadi fokus siapa saja yang terpilih kelak. Tidak semua warga Jabar saat ini bisa merasakan hal itu.
Apa saja tantangan cagub-cawagub Jabar terpilih?
Hasil survei Litbang Kompas yang digelar pada 1-9 November 2024 ini menunjukkan ada sejumlah daftar permasalahan yang dihadapi oleh publik Jabar saat ini. Apabila dirinci dari yang terbesar keluhannya, ada empat permasalahan yang dinilai masyarakat paling penting untuk segera ditangani oleh pemerintah daerah.
Permasalahan tersebut terdiri dari pengangguran karena minimnya lapangan kerja; persoalan pengentasan warga dari kemiskinan; sulitnya memenuhi kebutuhan hidup dasar, seperti sandang, pangan, papan, dan air bersih; serta pembangunan infrastruktur yang dinilai masih terbatas.
Keempat persoalan tersebut masing-masing diungkapkan responden di Jabar hingga lebih dari 27 persen. Bahkan, persoalan terkait pengangguran menjadi keluhan responden terbesar, yakni mencapai 37,6 persen.
Apa saja yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Bagaimana elektabilitas calon di Pilkada Jabar berdasarkan hasil survei Litbang Kompas?
- Faktor apa saja yang membuat elektabilitas Dedi Mulyadi-Erwan jauh mengungguli kompetitornya?
- Seberapa besar pemilih bimbang mampu memengaruhi konstelasi Pilkada Jabar?
- Apakah pemilih parpol solid mendukung calon yang diusung parpol?
- Bagaimana strategi parpol membendung pemilihnya agar tak ”lari” ke calon lain?
- Siapa yang meraup limpahan suara terbesar dari pemilih Ridwan Kamil?
- Bagaimana respons Dedi Mulyadi cs setelah melihat survei Litbang Kompas?
- Bagaimana pula respons dari para pesaing Dedi-Erwan?
- Apa saja tantangan cagub-cawagub Jabar terpilih?
Bagaimana elektabilitas calon di Pilkada Jabar berdasarkan hasil survei Litbang Kompas?
Hasil survei Litbang Kompas (Kompas.id) pada 1-9 November 2024 di setiap kabupaten dan kota di Jawa Barat menunjukkan hampir dua pertiga bagian pemilih di Jabar (65 persen) mengaku memilih pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan di pilkada mendatang.
Posisi selanjutnya, pasangan calon (paslon) Ahmad Syaikhu-Ilham Akbar Habibie dengan penguasaan 9 persen pemilih. Dua paslon lainnya, yakni Jeje Wiradinata-Ronal Surapradja dan Acep Adang Ruhiat-Gitalis Dwi Natarina, ada di posisi selanjutnya dengan dukungan pemilih di bawah 5 persen.
Kondisi itu membuat tak mudah bagi tiga paslon lain untuk mengejar elektabilitas Dedi-Erwan. Terlebih, hanya tinggal 17,3 persen pemilih yang belum menyatakan pilihannya.
Faktor apa saja yang membuat elektabilitas Dedi Mulyadi-Erwan jauh mengungguli kompetitornya?
Survei Litbang Kompas di Pilkada Jabar menunjukkan tingkat kesukaan terhadap pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan mencapai 92,1 persen. Angka kesukaan ini dominan melampaui tiga pasangan calon yang lain.
Dilihat dalam berbagai kesempatan, Dedi memainkan komunikasi politik yang mencitrakan dirinya sebagai orang asli Sunda dan sosok yang dekat dengan rakyat. Hal ini ditangkap pula dalam survei ini dengan 55,1 persen responden yang menilai karakter personal (kemampuan memimpin, merakyat, berwibawa) menjadi kelebihan pasangan Dedi-Erwan.
Selain itu, sebanyak 16,7 persen responden menilai kelebihannya terletak pada kinerja dan pengalaman. Kemudian, sebanyak 13,2 persen responden melihat kelebihan Dedi-Erwan banyak memberi bantuan.
Pendekatan budaya yang dilakukan Dedi Mulyadi, dalam survei ini, juga dominan dalam setiap regio sosial budaya. Wilayah Jawa Barat dapat dibagi menjadi enam wilayah sosial budaya, yakni Bandung Raya, Bodebek, Priangan Barat, Priangan Timur, Ciayumajakuning, dan Purwasuka. Di keenam wilayah ini, suara Dedi-Erwan mendominasi dengan nilai kesemuanya di atas 50 persen.
Seberapa besar pemilih bimbang mampu memengaruhi konstelasi Pilkada Jabar?
Masih mengacu dari hasil survei Litbang Kompas, proporsi mereka yang masih mungkin berubah pilihan mencapai 34 persen, sedangkan yang belum menentukan pilihan 17,3 persen.
Terdapat sejumlah alasan yang membuat responden belum memutuskan pilihan. Jika dikelompokkan dari hasil survei, ada dua bagian besar yang menjadi alasan responden mengambil keputusan tersebut, yakni belum mengenal sosok calon gubernur-wakil gubernur dan ketidaksesuaian dengan calon-calon yang ada.
Mereka yang belum mengenal calon sosok pemimpinnya ini masih menunggu kampanye/debat (39,2 persen) dan menunggu saran dari orang yang mereka percaya (18,3 persen).
Apakah pemilih parpol solid mendukung calon yang diusung parpol?
Dukungan bagi pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan tidak hanya datang dari pendukung partai politik pengusungnya. Limpahan suara juga berpotensi datang dari simpatisan partai yang bukan pendukung pasangan ini.
Hal ini salah satunya bisa terdeteksi dari para pemilih PDI-P. Berdasarkan hasil survei kali ini, sebanyak 77,3 persen dari pemilih PDI-P mengalirkan suaranya ke pasangan Dedi-Erwan. Fenomena yang mirip juga terjadi di para pemilih PKB. Dalam pilkada kali ini, PKB secara mandiri mengusung pasangan Acep Adang Ruhiat-Gitalis Dwi Natarina.
Serupa, suara dari pemilih PKS sebagai partai dengan perolehan suara legislatif provinsi terbesar kedua di Jawa Barat pun terpecah. Hal ini terindikasi dari suara konstituen mereka yang hanya mengalir sekitar 35,4 persen ke pasangan Ahmad Syaikhu-Ilham Akbar Habibie. Sebagian besar dari para pemilih partai ini pun justru menyatakan ingin memilih pasangan Dedi-Erwan di bilik suara nanti.
Bagaimana strategi parpol membendung pemilihnya agar tak ”lari” ke calon lain?
Sekretaris Jenderal DPP PKS Habib Aboe Bakar Al Habsyi mengatakan, sisa waktu kampanye selama sekitar dua pekan atau hingga 23 November mendatang bakal diintensifkan oleh PKS untuk ”mengembalikan” pemilih partai agar memilih pasangan yang diusung partai.
Ketua Fraksi PKS di DPR Jazuli Juwaini menambahkan, salah satu caranya, anggota DPRD/DPR PKS dari Jabar akan dikerahkan untuk mengoptimalkan pemenangan Syaikhu-Ilham. ”Bukan sekadar bergerak, melainkan bisa jadi kita akan minta mereka juga iuran semuanya untuk kemenangan Pilkada Jawa Barat, DKI, bahkan Banten ini,” katanya.
Sementara itu, Ketua DPP PKB Syaiful Huda mengatakan, berbagai strategi pemenangan bakal disiapkan, mulai dari memaksimalkan debat Pilkada Jabar hingga melibatkan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dalam kampanye terbuka di Jawa Barat. Selain itu, kampanye ”udara” di media sosial juga akan dimasifkan, terutama konten-konten dari debat pilkada.
Siapa meraup limpahan suara terbesar dari pemilih Ridwan Kamil?
Jika ditelusuri latar belakang pemilih pasangan Dedi-Erwan, terutama jika dikaitkan dengan pilihan mereka saat di Pilkada Jabar 2018, sebagian besar pemilih Ridwan Kamil yang saat itu berpasangan dengan Uu Ruzhanul Ulum menyeberang beralih mendukung pasangan Dedi-Erwan di Pilkada Jabar 2024 ini.
Sebanyak 68,1 persen dari kelompok pemilih Ridwan yang saat ini maju menjadi calon gubernur Jakarta tersebut memberikan dukungan kepada pasangan Dedi-Erwan.
Pola yang relatif sama juga didapatkan dari kelompok pemilih Dedi saat maju di Pilkada Jabar 2018 lalu. Saat itu, Dedi menjadi calon wakil gubernur mendampingi calon gubernur Deddy Mizwar. Sebanyak 85,3 persen pemilih Deddy-Dedi di pilkada 5 tahun lalu berniat akan mencoblos pasangan Dedi-Erwan di pilkada yang akan digelar pada 27 November 2024 mendatang.
Bagaimana respons Dedi Mulyadi cs setelah melihat survei Litbang Kompas?
Pasangan calon nomor urut 4, Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan, bakal menjaga momentum keunggulan di Pemilihan Kepala Daerah Jawa Barat seperti terlihat dari hasil survei Litbang Kompas. Elektabilitas tinggi yang diperoleh tidak akan membuat Dedi-Erwan terlena. Dedi-Erwan bersama partai politik pengusung dan tim sukses akan tetap tancap gas mengintensifkan kampanye.
Bagaimana pula respons dari para pesaing Dedi-Erwan?
Semua pesaingnya ikut mengamini elektabilitas Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan seperti terpotret dari hasil survei Litbang Kompas. Meski demikian, tiga cagub-cawagub Jabar yang jadi kompetitor Dedi-Erwan di Pilkada Jabar akan tetap berusaha untuk bisa memenangi Pilkada Jabar.
Selain itu, lebih dari sekadar angka elektabilitas, pencapaian Dedi-Erwan mencerminkan tingginya ekspektasi warga Jabar untuk hidup lebih baik.
Arisyal (35), warga Padalarang, Bandung Barat, misalnya, berharap kemiskinan tidak merajalela. Lapangan pekerjaan dan upah layak mesti menjadi fokus siapa saja yang terpilih kelak. Tidak semua warga Jabar saat ini bisa merasakan hal itu.
Apa saja tantangan cagub-cawagub Jabar terpilih?
Hasil survei Litbang Kompas yang digelar pada 1-9 November 2024 ini menunjukkan ada sejumlah daftar permasalahan yang dihadapi oleh publik Jabar saat ini. Apabila dirinci dari yang terbesar keluhannya, ada empat permasalahan yang dinilai masyarakat paling penting untuk segera ditangani oleh pemerintah daerah.
Permasalahan tersebut terdiri dari pengangguran karena minimnya lapangan kerja; persoalan pengentasan warga dari kemiskinan; sulitnya memenuhi kebutuhan hidup dasar, seperti sandang, pangan, papan, dan air bersih; serta pembangunan infrastruktur yang dinilai masih terbatas.
Keempat persoalan tersebut masing-masing diungkapkan responden di Jabar hingga lebih dari 27 persen. Bahkan, persoalan terkait pengangguran menjadi keluhan responden terbesar, yakni mencapai 37,6 persen.