Pemilihan Paus Leo XIV sebagai paus ke-267 sepanjang sejarah Gereja Katolik.
09 Mei 2025 11:44 WIB · Foto
Penantian itu berakhir….
Teka-teki siapa pengganti Paus Fransiskus, sekaligus Paus ke-267 dalam sejarah Katolik, terjawab saat asap putih mengepul dari cerobong asap di Kapel Sistina pada Kamis, 8 Mei 2025, pukul 18.07 waktu setempat. Kerumunan di Lapangan Santo Petrus bersorak, para pendeta membuat tanda salib dan para biarawati menangis. Ribuan umat Katolik yang tersebar di Alun-alun Santo Petrus kegirangan. Mereka sontak berdiri dan berlari mendekat ke pagar yang menjadi pembatas, tepat di bawah balkon yang nantinya Paus yang baru akan menyapa umat.
Berita asap putih yang sudah keluar dari cerobong asap seakan menjadi panggilan lebih dari 150.000 warga dari tempat lain di Roma untuk datang dan memenuhi Alun-alun Santo Petrus. ”Saya berada di rumah, tetapi begitu asap mengepul, saya mengenakan pakaian dan datang ke Vatikan,” kata Thomas Nicolini, 22 tahun, warga Peru dari Lima, yang sedang belajar ekonomi di Roma seperti dikutip Associated Press.
Asap putih juga menandakan bahwa seorang uskup telah mendapatkan setidaknya 89 suara dari 133 kardinal pemilih atau dua pertiga dari jumlah kardinal pemilih. Teriakan ”Habemus Papam!” bersahutan dengan teriakan ”Viva Ill Papa” lama menggema. Di beberapa sudut, tampak umat, biarawan, serta biarawati berlutut, bersujud sambil berdoa. Harapan baru disematkan untuk meyambut Paus ke-267 yang baru saja terpilih.
Ribuan umat yang berdesakan di Alun-alun Santo Petrus setia menunggu dalam kegembiraan. Dengan sabar mereka menantikan sesuatu yang juga paling ditunggu hari itu, ”Siapa paus terpilih itu?”
Teriakan kaget dan kegembiraan terdengar dari warga Amerika di Alun-alun Santo Petrus saat mereka mengetahui bahwa seorang kardinal Amerika, Robert Provost, terpilih menjadi paus dan telah mengambil nama Leo XIV. Hal serupa juga terjadi dengan ribuan warga Peru yang berada di kerumunan yang sama. Sorak-sorai ”Viva il papa” dan tepuk tangan meriah di antara kerumunan untuk merayakan paus baru, Paus ke-267, Paus Leo XIV.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/09/d779620f-333c-4796-be53-b4aec87430b5_jpg.jpg)
Saat gambar paus baru, Kardinal Robert Prevost, penduduk asli Chicago, muncul di layar, sorak-sorai menggema di lorong-lorong kota. Anak-anak dan orang dewasa melompat dari tempat duduk mereka sambil mengangkat tangan ke udara. Mereka sangat gembira dan tidak percaya bahwa seorang warga Chicago adalah paus baru mereka. Warga Katolik Chicago berkumpul di gereja-gereja dan merayakan dari rumah mereka saat keputusan bersejarah itu diumumkan. Paus Leo XIV adalah paus pertama yang terpilih dari Amerika. Ia lahir dan dibesarkan di Chicago sebelum memulai pelayanannya di Peru.
Lonceng katedral di ibu kota Peru, Lima, berdentang keras setelah pemilihan Prevost diumumkan. Orang-orang di luar katedral Lima mengatakan ingin Paus Leo XIV segera berkunjung.
”Damai sejahtera bagimu,” sapa Paus Leo XIV dari balkon Santo Petrus Basilika yang mengenakan jubah merah tradisional dan atribut kepausan. Sorak-sorai dan teriakan ”Viva Il Papa” menggema. Lambaian bendera Amerika juga terlihat disudut-sudut Alun-alun Santo Petrus.
Paus juga menekankan pesan tentang dialog ”perdamaian yang dilucuti dan melucuti” serta penginjilan misionaris dalam sambutannya.
”Bersama-sama, kita harus mencoba mencari tahu bagaimana menjadi gereja misionaris, gereja yang membangun jembatan, membangun dialog, yang selalu terbuka untuk menerima, seperti di piazza ini dengan tangan terbuka, untuk dapat menerima semua orang yang membutuhkan amal, kehadiran, dialog, dan cinta kita,” kata Leo dalam bahasa Italia yang hampir sempurna.
Sidang konklaf untuk memilih paus baru ini berlangsung singkat, tetapi bukan yang terpendek yang pernah ada. Para kardinal hanya membutuhkan waktu dua hari untuk memilih pengganti Paus Fransiskus, dan itu termasuk di antara sidang konklaf terpendek dalam beberapa dekade terakhir. Pemilihan Paus Julius II pada tahun 1503 saat ini tercatat sebagai penyelenggaraan konklaf terpendek. Ia terpilih hanya dalam beberapa jam setelah konklaf dinyatakan dimulai.
Sebelum tahun 1274, seorang paus dipilih pada hari yang sama dengan kematian pendahulunya. Namun, setelah itu, gereja memutuskan menunggu setidaknya 10 hari sebelum pemungutan suara pertama. Kemudian diperpanjang menjadi 15 hari untuk memberi waktu kepada semua kardinal untuk tiba di Roma. Konklaf tercepat yang menerapkan aturan menunggu 10 hari tampaknya adalah pemilihan Paus Julius II pada tahun 1503.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/09/e5e6dec1-cf0e-424f-bf2c-2cde1e93b60e_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/09/f5dedddd-93f8-4fcf-9e34-28b0d415bab0_jpg.jpg)
Selama beberapa abad terakhir, konklaf membutuhkan antara 3 hingga 14 pemungutan suara untuk menemukan paus. Paus Fransiskus terpilih pada tahun 2013 pada pemungutan suara kelima, Benediktus XVI tahun 2005 pada pemungutan suara keempat, dan Paus Pius XII pada pemungutan suara ketiga pada tahun 1939.
Konklaf terpanjang sejak abad ke-20 dimulai berlangsung dalam 14 putaran pemungutan suara selama lima hari, berakhir dengan pemilihan Pius XI pada tahun 1922. Yang terpendek adalah konklaf yang memilih Pius XII pada tahun 1939, yang berlangsung dalam tiga pemungutan suara dalam dua hari. Para kardinal harus mencapai mayoritas dua pertiga untuk memilih seorang paus.
Paus terpilih, Paus Leo XIV direncanakan merayakan misa Jumat pagi pukul 11.00 waktu setempat bersama para kardinal di Kapel Sistina. Ia juga akan menyampaikan berkat pertamanya pada Minggu siang dari Balkon Basilika Santo Petrus dan mengadakan audiensi dengan media di auditorium Vatikan.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari